Sebelumnya, FORMAL MODE ON…. :D
Harga BBM yang masih cukup mahal telah membuat masyarakat resah. Yang paling merasakan tentu masyarakat menengah dan mengengah ke bawah. Apalagi yang memiliki kendaraan pribadi, pasti budget untuk bahan bakar jadi membengkak. Belum lagi biaya belanja kebutuhan sehari-hari yang ikut membengkak karena melonjaknya harga kebutuhan pokok. Waduh...
Berbagai cara dilakukan demi menghemat pengeluaran. Yang paling sederhana tentu mengurangi pemakaian kendaraan pribadi. Banyak orang memutar otak demi menghemat BBM dengan cara yang unik, misalnya memakai bahan bakar alternatif, mencampur bensin dengan air, dan lain lain. Sudah banyak orang yang mengaplikasi berbagai penemuan di bidang teknologi untuk menghemat pengeluaran, sebagian besar mengakali pemakaian BBM.
Namun, pemakaian BBM bukan satu-satunya faktor. Masih banyak faktor lain yang mempengaruhi jumlah pengeluaran Anda. Salah kaprah dalam ngirit juga malah bisa bikin boros. Misal, orang lebih suka pakai oli murah ketimbang oli yang lebih mahal. Padahal, biasanya oli murah waktu pemakaiannya jauh lebih singkat daripada oli yang lebih mahal. Oli murah biasanya hanya tahan paling lama sekitar 2.500 km pemakaian. Sedangkan oli mahal bisa di atas 4.000 km. Sebenarnya rentang harga oli murah dan mahal (bukan oli sintetik) tidak begitu jauh, hanya sekitar 6.000-8.000 rupiah. Oli mahal biasanya lebih encer daripada oli murah. Inilah yang membuat oli mahal bisa bikin irit bensin. Oli encer tidak terlalu menghambat kerja mesin, sehingga tenaga mesin tidak terbuang percuma. Apalagi, oli encer lebih cepat menyebar ke bagian-bagian mesin, sehingga mesin bekerja optimal dan komponen mesin tidak cepat aus. Sedangkan oli kental lebih sulit menjangkau bagian mesin yang agak tersembunyi, padahal bagian itu juga butuh oli. Jika dihitung total berdasarkan waktu pemakaian dan konsumsi bensin, oli mahal justru lebih menguntungkan.
Knalpot. Banyak orang senang mengganti knalpot orisinal dengan knalpot racing. Tujuannya untuk meningkatkan performa motor. Tetapi perlu diingat kalau ganti knalpot, setting-an karburator harus menyesuaikan supaya tetap irit. Namun yang terjadi justru motor malah jadi boros. Kenapa? Karena kalau pakai knalpot racing, penginnya geber motor alias ngebut. Perilaku inilah yang bikin boros. Kalau setting-an karburator sesuai dan gaya berkendara tetap seperti biasa, harusnya bisa lebih irit karena tenaga terdongkrak sehingga tak perlu lagi buka gas banyak-banyak. Jadi, ganti knalpot boleh-boleh saja asal setting ulang karburator dan jangan terbawa nafsu untuk geber motor. Hanya saja, kalau Anda cukup bijaksana sebaiknya tetap pakai knalpot orisinal, demi mengurangi emisi gas buang untuk mengurangi efek pemanasan global. Pasalnya, knalpot racing biasanya tidak punya catalytic converter untuk mengurangi emisi. Alhasil, emisi gas buang jadi tinggi.
Ban. Si karet bundar juga punya andil besar dalam konsumsi BBM. Ban yang kurang angin tentu bikin boros. Jadi, usahakan tekanan angin ban selalu sesuai standar pabrik. Sama halnya dengan ban, velg juga cukup berpengaruh. Banyak velg racing yang dijual di pasaran bobotnya lebih berat ketimbang jari-jari bawaan motor. Tenaga motor jadi tertahan, sehingga harus putar gas lebih banyak akhirnya jadi boros.
Buat yang pakai jaket gembung alias parasut, sebaiknya lebih berhati-hati, sebab selain bikin boros karena tidak aerodinamis, juga mempengaruhi handling. Jadi, akan berbahaya pada saat kecepatan tinggi. Sebaiknya pilih jaket yang melindungi dari angin, tapi tidak menggembung. Misalnya jaket kulit dan jaket sintetis.
Terakhir, buat yang pakai windshield di motornya (biasanya pemakai skubek dan skuter), sebaiknya sudut windshield harus ideal agar aerodinamis. Windshield yang agak tegak memang melindungi dari angin, tapi bikin boros. Sebaliknya kalau sudut windshield ideal, malah bisa bikin irit karena motor makin aerodinamis.
Nah, sekian dulu tips dari saya. Semoga bermanfaat.